Minggu, 29 Juni 2008

jeddah-mekkah-riyadh

bisa mengunjungi tempat-tempat eksotis dunia, saya merasa beruntung sekali.

saya bekerja di sebuah pabrik besar yang 70% hasil produksinya diekspor. kebetulan (atau bukan) sejak masuk saya terdampar di marketing untuk timur tengah, afrika dan india, meskipun latar belakang saya teknik dan saya bukan orang arab, india apalagi afrika.

setelah dapat promosi karena nasib baik, saya mulai mendapat kesempatan dinas luar. adalah tanah suci tempat yang pertama kali saya kunjungi. mendarat di jeddah di musim dingin (bulan februari, saya juga baru tahu tak selamanya saudi itu panas) sangat menyenangkan meskipun melewati imigrasi yang galak (tapi berubah ramah setelah tau saya orang indonesia). karena ini perjalanan dinas, saya harus membuat beberapa appointment, dan untuk pertama kalinya bertemu orang-orang arab langsung dengan gaya mereka yang (rada) arogan.

hari itu hari kamis, di dalam ruang meeting yang padat, bos perusahaan yang tidak puas dengan kinerja anak buahnya, dan terprovokasi kata-kata kolega saya, mendamprat anak buahnya dengan f-word yang mengejutkan (bisa jadi ga ada terjemahan kata2 itu dalam arabic). begitulah orang arab yang raja atau pangeran minyak itu mereka sekolah ke barat, kembali dengan fasih berbahasa barat dengan kata-kata mutiara dari barat.

cepat sekali waktu berlalu (sukurlah) ketika hari jumat yang libur saya dapat kesempatan mengunjungi mekkah. luar biasa! naik mobil dari jeddah sekitar satu jam, menelusuri jalan-jalan yang berpasir dan berangin kencang. Kata orang, Nabi dulu naik unta menyusuri padang yang luas itu. saya sempat mendapati ramah-tamah si supir yang menawarkan taksinya, tapi berubah 180 derajat ketika sampai, tanpa menoleh, hanya menjentikkan jari telunjuk dan jempolnya menyuruh saya dan penumpang lain turun lalu tancap gas.

saya dan teman bersiap memasuki masjidil haram ketika petugas mencegat. deg-degan juga, sempat terpikir baju saya tak layak. ternyata, hanya karena teman saya membawa kamera yang dilarang masuk. baru kemudian kami kembali hanya 'bertangan kosong', memasuki kesejukan masjid megah tersebut.

beberapa orang tawaf mengitari ka'bah, ya ka'bah! saya sempat menitikkan air mata ketika mencium ka'bah (secar magis wewangian penutup ka'bah merasuki hati). sayangnya hajar aswad tidak berhasil saya jangkau karena semua orang berebutan. petugas tanpa ampun menyabet orang2 dengan sabuknya kalau keliatan terlalu banyak, cara yang kasar. kemudian shalat jumat di bawah terik matahari yang tak terasa menyengat. aduh, saya tidak mengeti sepatah katapun khotbah dalam arabic.

beberapa teman kantor menitipkan kartu nama mereka untuk ditinggal di sana, biar menular
katanya. ga tau Allah di atas sana tersenyum atau marah melihat saya mengotori rumahNya
dengan kartu-kartu nama.

saya sempat mencuri-curi foto pakai kamera handphone saya (di tempat suci kok nyolong). aneh
juga bahkan di depan masjidil saya tidak bisa mengambil foto, padahal view-nya bagus, burung2 merpati yang berkumpul puluhan jinak-jinak. setelah diusir petugas, saya hanya bisa ngacir, menuju toko-toko sekitar untuk mencari suvenir, sebagian penjual bisa mengucapkan satu dua kata dalam bahasa indonesia, mungkin banyaknya jamaah haji kita kesana (atau tkw?). setelah ashar saya balik ke jeddah.

saya sempat kagum dan merasa ganjil dengan satu restoran fast food lokal, namanya al-baik (yang artinya baik). serasa ganjil karena salah satu al baik tepat bersebelahan dengan kfc. sementara al baik dijubeli orang (arab), konter kfc kosong melompong. karena penasaran sayapun mampir dan mencoba. ternyata rasanya tidak sebaik namanya. al baik dimiliki kakak beradik yang sempat kuliah di amrik juga. dan walaupun ramai, mereka tidak berniat keluar dari jeddah, setidaknya sampai saat itu.

dari jeddah terbang ke riyadh. kota yang lebih metropolis, banyak mall disana dan banyak diskon! tidak menyangka menemukan counter guess di saudi, diskon pula. terasa sekali amerikanisasi (seperti kuningisasi jaman orba). lihat saja brand2 amrik bertebaran (bahkan la senza pun ada). dan mobil-mobinya mobil amerika yang panjang2 (yang sebagian bercat putih, biar ga panas kali). bahkan gaya mengemudinya seperti cowboy sruduk sana sruduk sini, tak heran jarang ada mobil yang masih mulus.

mall paling besar, kingdom mall kalau tidak salah namanya, menjual barang-barang mahal, dikunjungi para syeik yang berbaju putih-putih panjang bersama istri (atau selirnya) yang berjubah hitam hitam. arsitekturnya juga menawan, kata orang pesawat bisa masuk melewati celah yang ada di pucuk mall tersebut (mudah2an tidak ada yang mencoba, kalau gagal...)

tapi saya sempat ketagihan shopping di mall sebelah hotel saya. untuk beli oleh-oleh jstifikasinya, padahal karena diskonnya. uniknya tiap kali adzan berkumandang, toko tutup
tanpa terkecuali.

dari riyadh saya menuju bahrain. ini bukan terakhir kali ke saudi, setelah itu di musim yang berbeda, panaaaas dan ga ada diskon!

Kamis, 26 Juni 2008

taksi

taksi bisa jadi sumber informasi. kadang bisa juga jadi inspirasi. tapi banyak juga yang tak tahu terima kasih.


taksi singapura salah satu taksi yang menyenangkan. karena lebar dan lapang. supir-supirnya bebahasa inggris aktif, kadang berbahasa melayu, jadi sangat mudah berkomunikasi. pernah di riyadh, seorang supir taksi yang tidak berbahsa inggris, membingungkan saya (dan dirinya sendiri) saat dia terus-terusan bilang ramen. mana saya tahu bahasa arab (tapi akhirnya saya' menambah satu kosakata), ternyata ramen artinya kanan, belok kanan. di turki jarang yang berbahasa inggris, jadi penguasaan bahasa tarzan sangat diperlukan. dan jangan lupa selalu membawa kartu nama hotel karena tanpa alamat jelas bisa nyasar seperti yang saya alami.


sebagai traveller yang dibiayai kantor, bon-bon perjalanan sangat penting untuk pelaporan. taksi singapura selalu siap mencetak ongkosnya melalui printer kecil di dalam. dan mau utang juga bisa asal ada credit card dan tak malu diomelin supir. jangan lupa bilang 'faktura' (satu lagi kosakata arabic) kalau minta bon di ranah arab, dengan senang hati supir akan menuliskan bon, dalam huruf arab (biasanya bakal bikin pusing orang akunting).

di indonesia kita bisa menghentikan taksi di mana saja, tapi tidak di beberapa negara: ada taxi stand. kalau sudah begini agak menyusahkan. seperti di singapura, ini satu-satunya hal yang menyebalkan, antri taksi disana seperti ular. antri taksi di dubai pada musim panas juga sangat tidak mengenakkan. lamanya luar biasa dan berdiri di bawah terik berderajat 37-40 celcius sungguh menyiksa. armada taksi pun sangat terbatas. ada kejadian lucu karena susahnya dapat taksi di india, saya dan teman-teman akan menghadiri makan malam terpaksa naik satu taksi bertujuh tumpuk-tumpukan!


seorang supir taksi yang terlihat intelek di singapura, seorang melayu, bercerita kalau dia memiliki taksinya sendiri dan bekerja untuk dirinya sendiri seperti seorang wiraswasta. meskipun, menurutnya, dia masih famili pejabat negara jiran malaysia. menarik mendengar usaha gigihnya, percaya atau tidak, tidak masalah. seorang supir taksi setengah baya di turki yang berwajah bulat dan tampak baik hati bercerita panjang lebar tentang bagaimana menjalankan taksi disana: memiliki sendiri, menyewa, atau dipekerjakan perusahaan taksi. dengan keramahan dan informatifnya si supir membuat saya dan teman memuji dia sebagai orang paling baik di turki selama empat hari disana. ketika saya harus membayar lebih (perginya naik taksi lain), entah kenapa saya tidak merasa keberatan. malahan, kami mencarter dia untuk pergi lagi ke tempat lain. sayangnya, selalu ada udang di balik kulit udang. saya di antar ke grand bazaar yang terkenal itu tapi diburu-buru. tujuan akhirnya mengantar saya ke toko karpet temannya. ketika saya menolak, dia memasang ongkos tinggi untuk meter taksinya yang tetap berjalan. semua impresi baik hilang dalam sekejap.


saya langsung teringat kejadian di johannesburg, south africa. tak ada meter di taksi itu, seperti taksi privat yang dikemudi seorang kulit hitam yang ramah. saya di antar ke tempat klien saya dan dia menunggu, betapa baiknya pikir saya. ketika dia mengantar kembali ke hotel dan mulai menulis bon taksinya, baru saya sadar tak ada lagi senyum manis. usd 100 harus saya bayar dan ketika saya tawar dia hanya tersenyum dan bilang tidak! sebelumnya saya sudah merasakan mahalnya taksi di hongkong, 10 kali lipat dibandingkan MTR yang lebih cepat dan mudah.

di capetown saya sempat digoda untuk diantarkan ke nightclub yang menyuguhkan tarian strip, tapi faktor keamanan membuat saya berpikir 1000 kali untuk mengiyakan (sebelum menginjakkan kaki di south africa, kolega saya yang orang lokal terus memperingatkan tingginya angka kriminalitas disana). akhirnya saya bilang lain kali saja. tak jauh berbeda di kuta, bali seorang supir taksi sampai memberikan kartu namanya kalau saja saya perlu 'berkegiatan malam' dia siap mengantarkan. tapi mungkin yang paling tidak dinyana sekaligus menyeramakan, seorang supir taksi di riyadh, pernah menawari hal yang sama. itu riyadh, macam-macam bisa dirajam!

di saudi hampir semua supir taksi sama, sama-sama brutal di jalan. sruduk sana sruduk sini. di india, semua taksi dan kendaran lainnya membunyikan klakson bersamaan di lalu lintas yang padat, saling ingin mendahului. anehnya, tak ada yang saling marah atau menyumpahi. di mesir, seorang supir taksi tua yang berawajah lucu, bergigi ompong, terus bernyanyi dan berceloteh riang gembira sambil sesekali membunyikan klaksonnya ke polantas yang tidak juga membiarkannya lewat. saya agak kuatir, taksinya yang bobrok dan bergoyang-goyang itu selip karena sepertinya rem blong.


kejadian paling 'tak tahu terima kasih' juga di kairo, mesir. seorang yang dipanggil abdul, supir taksi yang nongkrong di hotel, menawarkan berbagai kemudahan buat saya dan teman yang ingin menikmati keindahan mesir. ongkos yang ditawarkannya masih masuk akal, sekitar 600 ribu kalau dirupiahkan karena dia siap mengantar tur keliling kairo. benar, memang dia menjalankan tugasnya, tapi sekali lagi di balik senyumnya, ada agenda tersembunyi. satu demi satu dia menawarkan toko dan jasa milik teman-temannya yang buat saya tidak perlu mulai dari lukisan papirus, naik unta, wewangian sampai baju. dia sempat bertanya ke saya kenapa saya menolak keras, saya bilang saya sudah pernah sebelumnya, tapi dia tak percaya. dan ketika ahkhirnya dia mengantarkan kami ke airport, saya lega sekali. cepat-cepat saya tinggal dia tanpa ramah-tamah. eh, tak lama teman saya menyusl sambil menggerutu, si abdul minta tips lagi!