Kamis, 26 Juni 2008

taksi

taksi bisa jadi sumber informasi. kadang bisa juga jadi inspirasi. tapi banyak juga yang tak tahu terima kasih.


taksi singapura salah satu taksi yang menyenangkan. karena lebar dan lapang. supir-supirnya bebahasa inggris aktif, kadang berbahasa melayu, jadi sangat mudah berkomunikasi. pernah di riyadh, seorang supir taksi yang tidak berbahsa inggris, membingungkan saya (dan dirinya sendiri) saat dia terus-terusan bilang ramen. mana saya tahu bahasa arab (tapi akhirnya saya' menambah satu kosakata), ternyata ramen artinya kanan, belok kanan. di turki jarang yang berbahasa inggris, jadi penguasaan bahasa tarzan sangat diperlukan. dan jangan lupa selalu membawa kartu nama hotel karena tanpa alamat jelas bisa nyasar seperti yang saya alami.


sebagai traveller yang dibiayai kantor, bon-bon perjalanan sangat penting untuk pelaporan. taksi singapura selalu siap mencetak ongkosnya melalui printer kecil di dalam. dan mau utang juga bisa asal ada credit card dan tak malu diomelin supir. jangan lupa bilang 'faktura' (satu lagi kosakata arabic) kalau minta bon di ranah arab, dengan senang hati supir akan menuliskan bon, dalam huruf arab (biasanya bakal bikin pusing orang akunting).

di indonesia kita bisa menghentikan taksi di mana saja, tapi tidak di beberapa negara: ada taxi stand. kalau sudah begini agak menyusahkan. seperti di singapura, ini satu-satunya hal yang menyebalkan, antri taksi disana seperti ular. antri taksi di dubai pada musim panas juga sangat tidak mengenakkan. lamanya luar biasa dan berdiri di bawah terik berderajat 37-40 celcius sungguh menyiksa. armada taksi pun sangat terbatas. ada kejadian lucu karena susahnya dapat taksi di india, saya dan teman-teman akan menghadiri makan malam terpaksa naik satu taksi bertujuh tumpuk-tumpukan!


seorang supir taksi yang terlihat intelek di singapura, seorang melayu, bercerita kalau dia memiliki taksinya sendiri dan bekerja untuk dirinya sendiri seperti seorang wiraswasta. meskipun, menurutnya, dia masih famili pejabat negara jiran malaysia. menarik mendengar usaha gigihnya, percaya atau tidak, tidak masalah. seorang supir taksi setengah baya di turki yang berwajah bulat dan tampak baik hati bercerita panjang lebar tentang bagaimana menjalankan taksi disana: memiliki sendiri, menyewa, atau dipekerjakan perusahaan taksi. dengan keramahan dan informatifnya si supir membuat saya dan teman memuji dia sebagai orang paling baik di turki selama empat hari disana. ketika saya harus membayar lebih (perginya naik taksi lain), entah kenapa saya tidak merasa keberatan. malahan, kami mencarter dia untuk pergi lagi ke tempat lain. sayangnya, selalu ada udang di balik kulit udang. saya di antar ke grand bazaar yang terkenal itu tapi diburu-buru. tujuan akhirnya mengantar saya ke toko karpet temannya. ketika saya menolak, dia memasang ongkos tinggi untuk meter taksinya yang tetap berjalan. semua impresi baik hilang dalam sekejap.


saya langsung teringat kejadian di johannesburg, south africa. tak ada meter di taksi itu, seperti taksi privat yang dikemudi seorang kulit hitam yang ramah. saya di antar ke tempat klien saya dan dia menunggu, betapa baiknya pikir saya. ketika dia mengantar kembali ke hotel dan mulai menulis bon taksinya, baru saya sadar tak ada lagi senyum manis. usd 100 harus saya bayar dan ketika saya tawar dia hanya tersenyum dan bilang tidak! sebelumnya saya sudah merasakan mahalnya taksi di hongkong, 10 kali lipat dibandingkan MTR yang lebih cepat dan mudah.

di capetown saya sempat digoda untuk diantarkan ke nightclub yang menyuguhkan tarian strip, tapi faktor keamanan membuat saya berpikir 1000 kali untuk mengiyakan (sebelum menginjakkan kaki di south africa, kolega saya yang orang lokal terus memperingatkan tingginya angka kriminalitas disana). akhirnya saya bilang lain kali saja. tak jauh berbeda di kuta, bali seorang supir taksi sampai memberikan kartu namanya kalau saja saya perlu 'berkegiatan malam' dia siap mengantarkan. tapi mungkin yang paling tidak dinyana sekaligus menyeramakan, seorang supir taksi di riyadh, pernah menawari hal yang sama. itu riyadh, macam-macam bisa dirajam!

di saudi hampir semua supir taksi sama, sama-sama brutal di jalan. sruduk sana sruduk sini. di india, semua taksi dan kendaran lainnya membunyikan klakson bersamaan di lalu lintas yang padat, saling ingin mendahului. anehnya, tak ada yang saling marah atau menyumpahi. di mesir, seorang supir taksi tua yang berawajah lucu, bergigi ompong, terus bernyanyi dan berceloteh riang gembira sambil sesekali membunyikan klaksonnya ke polantas yang tidak juga membiarkannya lewat. saya agak kuatir, taksinya yang bobrok dan bergoyang-goyang itu selip karena sepertinya rem blong.


kejadian paling 'tak tahu terima kasih' juga di kairo, mesir. seorang yang dipanggil abdul, supir taksi yang nongkrong di hotel, menawarkan berbagai kemudahan buat saya dan teman yang ingin menikmati keindahan mesir. ongkos yang ditawarkannya masih masuk akal, sekitar 600 ribu kalau dirupiahkan karena dia siap mengantar tur keliling kairo. benar, memang dia menjalankan tugasnya, tapi sekali lagi di balik senyumnya, ada agenda tersembunyi. satu demi satu dia menawarkan toko dan jasa milik teman-temannya yang buat saya tidak perlu mulai dari lukisan papirus, naik unta, wewangian sampai baju. dia sempat bertanya ke saya kenapa saya menolak keras, saya bilang saya sudah pernah sebelumnya, tapi dia tak percaya. dan ketika ahkhirnya dia mengantarkan kami ke airport, saya lega sekali. cepat-cepat saya tinggal dia tanpa ramah-tamah. eh, tak lama teman saya menyusl sambil menggerutu, si abdul minta tips lagi!

Tidak ada komentar: