bisa mengunjungi tempat-tempat eksotis dunia, saya merasa beruntung sekali.
saya bekerja di sebuah pabrik besar yang 70% hasil produksinya diekspor. kebetulan (atau bukan) sejak masuk saya terdampar di marketing untuk timur tengah, afrika dan india, meskipun latar belakang saya teknik dan saya bukan orang arab, india apalagi afrika.
setelah dapat promosi karena nasib baik, saya mulai mendapat kesempatan dinas luar. adalah tanah suci tempat yang pertama kali saya kunjungi. mendarat di jeddah di musim dingin (bulan februari, saya juga baru tahu tak selamanya saudi itu panas) sangat menyenangkan meskipun melewati imigrasi yang galak (tapi berubah ramah setelah tau saya orang indonesia). karena ini perjalanan dinas, saya harus membuat beberapa appointment, dan untuk pertama kalinya bertemu orang-orang arab langsung dengan gaya mereka yang (rada) arogan.
hari itu hari kamis, di dalam ruang meeting yang padat, bos perusahaan yang tidak puas dengan kinerja anak buahnya, dan terprovokasi kata-kata kolega saya, mendamprat anak buahnya dengan f-word yang mengejutkan (bisa jadi ga ada terjemahan kata2 itu dalam arabic). begitulah orang arab yang raja atau pangeran minyak itu mereka sekolah ke barat, kembali dengan fasih berbahasa barat dengan kata-kata mutiara dari barat.
cepat sekali waktu berlalu (sukurlah) ketika hari jumat yang libur saya dapat kesempatan mengunjungi mekkah. luar biasa! naik mobil dari jeddah sekitar satu jam, menelusuri jalan-jalan yang berpasir dan berangin kencang. Kata orang, Nabi dulu naik unta menyusuri padang yang luas itu. saya sempat mendapati ramah-tamah si supir yang menawarkan taksinya, tapi berubah 180 derajat ketika sampai, tanpa menoleh, hanya menjentikkan jari telunjuk dan jempolnya menyuruh saya dan penumpang lain turun lalu tancap gas.
saya dan teman bersiap memasuki masjidil haram ketika petugas mencegat. deg-degan juga, sempat terpikir baju saya tak layak. ternyata, hanya karena teman saya membawa kamera yang dilarang masuk. baru kemudian kami kembali hanya 'bertangan kosong', memasuki kesejukan masjid megah tersebut.
beberapa orang tawaf mengitari ka'bah, ya ka'bah! saya sempat menitikkan air mata ketika mencium ka'bah (secar magis wewangian penutup ka'bah merasuki hati). sayangnya hajar aswad tidak berhasil saya jangkau karena semua orang berebutan. petugas tanpa ampun menyabet orang2 dengan sabuknya kalau keliatan terlalu banyak, cara yang kasar. kemudian shalat jumat di bawah terik matahari yang tak terasa menyengat. aduh, saya tidak mengeti sepatah katapun khotbah dalam arabic.
beberapa teman kantor menitipkan kartu nama mereka untuk ditinggal di sana, biar menular
katanya. ga tau Allah di atas sana tersenyum atau marah melihat saya mengotori rumahNya
dengan kartu-kartu nama.
saya sempat mencuri-curi foto pakai kamera handphone saya (di tempat suci kok nyolong). aneh
juga bahkan di depan masjidil saya tidak bisa mengambil foto, padahal view-nya bagus, burung2 merpati yang berkumpul puluhan jinak-jinak. setelah diusir petugas, saya hanya bisa ngacir, menuju toko-toko sekitar untuk mencari suvenir, sebagian penjual bisa mengucapkan satu dua kata dalam bahasa indonesia, mungkin banyaknya jamaah haji kita kesana (atau tkw?). setelah ashar saya balik ke jeddah.
saya sempat kagum dan merasa ganjil dengan satu restoran fast food lokal, namanya al-baik (yang artinya baik). serasa ganjil karena salah satu al baik tepat bersebelahan dengan kfc. sementara al baik dijubeli orang (arab), konter kfc kosong melompong. karena penasaran sayapun mampir dan mencoba. ternyata rasanya tidak sebaik namanya. al baik dimiliki kakak beradik yang sempat kuliah di amrik juga. dan walaupun ramai, mereka tidak berniat keluar dari jeddah, setidaknya sampai saat itu.
dari jeddah terbang ke riyadh. kota yang lebih metropolis, banyak mall disana dan banyak diskon! tidak menyangka menemukan counter guess di saudi, diskon pula. terasa sekali amerikanisasi (seperti kuningisasi jaman orba). lihat saja brand2 amrik bertebaran (bahkan la senza pun ada). dan mobil-mobinya mobil amerika yang panjang2 (yang sebagian bercat putih, biar ga panas kali). bahkan gaya mengemudinya seperti cowboy sruduk sana sruduk sini, tak heran jarang ada mobil yang masih mulus.
mall paling besar, kingdom mall kalau tidak salah namanya, menjual barang-barang mahal, dikunjungi para syeik yang berbaju putih-putih panjang bersama istri (atau selirnya) yang berjubah hitam hitam. arsitekturnya juga menawan, kata orang pesawat bisa masuk melewati celah yang ada di pucuk mall tersebut (mudah2an tidak ada yang mencoba, kalau gagal...)
tapi saya sempat ketagihan shopping di mall sebelah hotel saya. untuk beli oleh-oleh jstifikasinya, padahal karena diskonnya. uniknya tiap kali adzan berkumandang, toko tutup
tanpa terkecuali.
dari riyadh saya menuju bahrain. ini bukan terakhir kali ke saudi, setelah itu di musim yang berbeda, panaaaas dan ga ada diskon!
saya bekerja di sebuah pabrik besar yang 70% hasil produksinya diekspor. kebetulan (atau bukan) sejak masuk saya terdampar di marketing untuk timur tengah, afrika dan india, meskipun latar belakang saya teknik dan saya bukan orang arab, india apalagi afrika.
setelah dapat promosi karena nasib baik, saya mulai mendapat kesempatan dinas luar. adalah tanah suci tempat yang pertama kali saya kunjungi. mendarat di jeddah di musim dingin (bulan februari, saya juga baru tahu tak selamanya saudi itu panas) sangat menyenangkan meskipun melewati imigrasi yang galak (tapi berubah ramah setelah tau saya orang indonesia). karena ini perjalanan dinas, saya harus membuat beberapa appointment, dan untuk pertama kalinya bertemu orang-orang arab langsung dengan gaya mereka yang (rada) arogan.
hari itu hari kamis, di dalam ruang meeting yang padat, bos perusahaan yang tidak puas dengan kinerja anak buahnya, dan terprovokasi kata-kata kolega saya, mendamprat anak buahnya dengan f-word yang mengejutkan (bisa jadi ga ada terjemahan kata2 itu dalam arabic). begitulah orang arab yang raja atau pangeran minyak itu mereka sekolah ke barat, kembali dengan fasih berbahasa barat dengan kata-kata mutiara dari barat.
cepat sekali waktu berlalu (sukurlah) ketika hari jumat yang libur saya dapat kesempatan mengunjungi mekkah. luar biasa! naik mobil dari jeddah sekitar satu jam, menelusuri jalan-jalan yang berpasir dan berangin kencang. Kata orang, Nabi dulu naik unta menyusuri padang yang luas itu. saya sempat mendapati ramah-tamah si supir yang menawarkan taksinya, tapi berubah 180 derajat ketika sampai, tanpa menoleh, hanya menjentikkan jari telunjuk dan jempolnya menyuruh saya dan penumpang lain turun lalu tancap gas.
saya dan teman bersiap memasuki masjidil haram ketika petugas mencegat. deg-degan juga, sempat terpikir baju saya tak layak. ternyata, hanya karena teman saya membawa kamera yang dilarang masuk. baru kemudian kami kembali hanya 'bertangan kosong', memasuki kesejukan masjid megah tersebut.
beberapa orang tawaf mengitari ka'bah, ya ka'bah! saya sempat menitikkan air mata ketika mencium ka'bah (secar magis wewangian penutup ka'bah merasuki hati). sayangnya hajar aswad tidak berhasil saya jangkau karena semua orang berebutan. petugas tanpa ampun menyabet orang2 dengan sabuknya kalau keliatan terlalu banyak, cara yang kasar. kemudian shalat jumat di bawah terik matahari yang tak terasa menyengat. aduh, saya tidak mengeti sepatah katapun khotbah dalam arabic.
beberapa teman kantor menitipkan kartu nama mereka untuk ditinggal di sana, biar menular
katanya. ga tau Allah di atas sana tersenyum atau marah melihat saya mengotori rumahNya
dengan kartu-kartu nama.
saya sempat mencuri-curi foto pakai kamera handphone saya (di tempat suci kok nyolong). aneh
juga bahkan di depan masjidil saya tidak bisa mengambil foto, padahal view-nya bagus, burung2 merpati yang berkumpul puluhan jinak-jinak. setelah diusir petugas, saya hanya bisa ngacir, menuju toko-toko sekitar untuk mencari suvenir, sebagian penjual bisa mengucapkan satu dua kata dalam bahasa indonesia, mungkin banyaknya jamaah haji kita kesana (atau tkw?). setelah ashar saya balik ke jeddah.
saya sempat kagum dan merasa ganjil dengan satu restoran fast food lokal, namanya al-baik (yang artinya baik). serasa ganjil karena salah satu al baik tepat bersebelahan dengan kfc. sementara al baik dijubeli orang (arab), konter kfc kosong melompong. karena penasaran sayapun mampir dan mencoba. ternyata rasanya tidak sebaik namanya. al baik dimiliki kakak beradik yang sempat kuliah di amrik juga. dan walaupun ramai, mereka tidak berniat keluar dari jeddah, setidaknya sampai saat itu.
dari jeddah terbang ke riyadh. kota yang lebih metropolis, banyak mall disana dan banyak diskon! tidak menyangka menemukan counter guess di saudi, diskon pula. terasa sekali amerikanisasi (seperti kuningisasi jaman orba). lihat saja brand2 amrik bertebaran (bahkan la senza pun ada). dan mobil-mobinya mobil amerika yang panjang2 (yang sebagian bercat putih, biar ga panas kali). bahkan gaya mengemudinya seperti cowboy sruduk sana sruduk sini, tak heran jarang ada mobil yang masih mulus.
mall paling besar, kingdom mall kalau tidak salah namanya, menjual barang-barang mahal, dikunjungi para syeik yang berbaju putih-putih panjang bersama istri (atau selirnya) yang berjubah hitam hitam. arsitekturnya juga menawan, kata orang pesawat bisa masuk melewati celah yang ada di pucuk mall tersebut (mudah2an tidak ada yang mencoba, kalau gagal...)
tapi saya sempat ketagihan shopping di mall sebelah hotel saya. untuk beli oleh-oleh jstifikasinya, padahal karena diskonnya. uniknya tiap kali adzan berkumandang, toko tutup
tanpa terkecuali.
dari riyadh saya menuju bahrain. ini bukan terakhir kali ke saudi, setelah itu di musim yang berbeda, panaaaas dan ga ada diskon!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar